Sabtu, 06 Januari 2018

4 Jalur Pendakian Gunung Penanggungan 1.653 mdpl

jalur pendakian gunung penanggungan

Gunung Penanggungan merupakan sebuah gunung berapi yang sedang tertidur atau beristirahat, berada di perbatasan antara Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, ketinggian puncaknya mencapai 1.653 mdpl. Sebagaimana gunung Guntur di Jawa Barat, banyak para pendaki yang menyebutnya sebagai miniatur gunung Semeru. Sebab, puncak gunung Penanggungan memiliki permukaan yang tandus, seperti puncak Mahameru.




4 Jalur Pendakian Gunung Penanggungan 1.653 mdpl

Medan pendakian di gunung Penanggungan tidak berbeda jauh dengan gunung-gunung Indonesia lainnya, berupa tanjakan, turunan, jurang, lembah dan berbukit. Sedangkan lintasannya berupa pasir padat berbatu, di beberapa titik memiliki track yang terjal nan curam, rata-rata kemiringannya adalah 60-80 derajat.

Sementara, jalur yang digunakan untuk mencapai puncak gunung Penanggungan setidak ada 4 jalur pendakian, di antaranya adalah jalur Tamiajeng, jalur Jolotundo, jalur Ngoro dan jalur Trawas. Nah, tulisan yang sedang kamu baca sekarang akan me-review semua jalur tersebut. Berikut di bawah ini.



1. Jalur Pendakian Gunung Penanggungan Via Tamiajeng

Jalur Tamiajeng merupakan jalur resmi yang paling populer di kalangan para pendaki. Sebab, jarak dari basecamp menuju puncaknya relatif pendek dan memiliki pemandangan alam yang merona nan indah, meskipun kemiringan track-nya lebih menantang dari jalur lainnya. Itu bukanlah masalah.

Rute perjalanan menuju basecamp pendakian jalur Tamiajeng bisa dimulai dari Surabaya menuju Terminal Pandaan. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan ojek atau angkutan umum menuju Trawas. Letak basecamp tidak jauh dari sana, dekat dengan Universitas Ubaya Kampus 3 dan lokasi wisata air terjun Dlundung.

Sesampainya di basecamp, maka kamu dapat menikmati berbagai fasilitas yang telah tersedia, di antaranya adalah tempat parkir, warung dan kamar mandi. Sementara, biaya pendakian di gunung Penanggungan adalah Rp. 8ribu (dikasih bonus trash bag untuk menampung sampah).

Jarak dari basecamp menuju puncak sekitar 3 jam perjalanan. Siapkanlah perbekalan minum sebaik mungkin, karena di sepanjang jalur, kamu tidak akan menemukan sumber air. Berikut adalah beberapa tips pendakian gunung Penanggungan via Tamiajeng.


  1. Bila melakukan pendakian tek-tok, mulailah pendakian sepagi mungkin
  2. Tempat paling ideal untuk mendirikan adalah di puncak bayangan, lapangan di dekat puncak dan di atas puncak
  3. Berhati-hatilah saat mendirikan tenda di puncak bayangan, areanya yang terbuka, memungkinkan anging berhembus dengan kencang

2. Jalur Pendakian Gunung Penanggungan Via Jolotundo

Jalur Jolotundo merupakan sebuah jalur pendakian gunung Penanggungan yang lebih panjang dari jalur Tamiajeng, maka otomatis track di dalamnya juga lebih landai. Sesuatu yang menarik di jalur ini adalah terdapatnya situs-situs sejarah di sepanjang perjalanan. Oleh karenanya, selain para pendaki gunung, para ahli keolog dan ahli sejarah pun sering terlihat mondar-mandir di jalur Jolotundo.

Pintu pendakian via Jolotundo berada di Desa Trawas, Kabupaten Mojokerto, berjarak sekitar 30 menit dari basecamp pendakian jalur Tamiajeng. Oleh karenanya, rute perjalanan menuju basecamp Jolotundo tidak berbeda jauh dengan rute perjalanan menuju basecamp Tamiajeng yang sudah saya sampaikan di atas.

Perjalanan dari basecamp Jolotundo menuju puncak gunung Penanggungan akan memakan waktu sekitar 4,5 jam. Tidak ada sumber air di sepanjang perjalanan, dan akan melewati 5 bangunan candi, di antaranya adalah candi Bayi, candi Putri, candi Putra, candi Gentong dan candi Sinta.

Berikut adalah beberapa tips pendakian gunung Penanggungan via Jolotundo;


  1. Selain air hujan, kamu tidak akan menemukan sumber air di sepanjang perjalanan. Oleh karenanya, persiapkan perbekalan minum dengan sebaik mungkin
  2. Bila hendak melakukan pendakian lintas jalur, maka tempat mendirikan tenda yang paling ideal adalah di lapangan dekat puncak
  3. Apapun alasannya, jangan pernah merusak setiap situs sejarah di sepanjang jalur

3. Jalur Pendakian Gunung Penanggungan Via Ngoro

Jalur pendakian gunung Penanggungan selanjutnya adalah jalur via Ngoro, sebuah jalur yang dikenal lebih berat dari jalur Jolotundo dan lebih panjang dari jalur Tamiajeng, pintu pendakiannya berada di Kabupaten Mojokerto, sebelah utara gunung Penanggungan.

Rute menuju basecamp Ngoro bisa ditempuh dari terminal Mojokerto atau Pandaan, dari dua tempat tersebut, kamu dapat naik minibus untuk sampai di Desa Ngoro, kemudian dengan menggunakan angkutan desa, kamu bisa menuju Desa Jedong dan dilanjut menuju Dusun Genting. Jarak dari Desa Ngoro menuju basecamp sekitar 9km.

Medan yang akan dilalui, dari basecamp menuju puncak, didominasi oleh tanah setapak, melewati candi Wayang dan terdapat sebuah tanjakan sadis yang memiliki kemiringan hingga 80 derajat.

Berikut adalah beberapa tips pendakian gunung Penanggungan via Ngoro;


  1. Usahakan untuk tidak melakukan pendakian di musim hujan
  2. Jangan sepelekan keselamatan, gunakanlah perlengkapan yang safety, semisal sepatu gunung dan pakaian lapangan
  3. Bila hendak melakukan pendakian tek-tok, mulai sepagi mungkin
  4. Bila cuaca tidak memungkinkan untuk sampai di puncak, turunlah kembali, jangan mamaksakan keadaan

4. Jalur Pendakian Gunung Penanggungan Via Trawas

Jalur pendakian gunung Penanggungan selanjutnya adalah jalur via Trawas, cukup populer di kalangan para pendaki maupun para wisatawan. Sebab, di sekitar basecamp, terdapat beberapa tempat wisata alam. Jadi, untuk menemukan basecamp Trawas tidaklah terlalu sulit, kamu hanya cukup mencari kantor BRI Trawas, letaknya tidak jauh dari sana.

Jarak dari basecamp menuju puncak sekitar 4 jam perjalanan, medan didominasi oleh tanah setapak, melewati 4 pos pendakian, jarak dari masing-masing pos tidaklah terlalu jauh. Selanjutkan akan melewati puncak bayangan yang merupakan tempat paling ideal untuk mendirikan tenda. Sebab, selain areanya yang luas, saat malam hari, dari pos bayangan kamu dapat menyaksikan pemandangan hamparan kota yang berhiaskan lampu.


Puncak Gunung Penanggungan



Puncak gunung Penanggungan memiliki area yang cukup luas nan terbuka, pemandangan yang bisa kamu nikmati saat berhasil mencapainya adalah gugusan puncak gunung Semeru, gunung Arjuno dan gunung Welirang.

Sumber gambar: http://www.dinata.my.id

7 Misteri dan Pendakian Gunung Kawi

Gunung Kawi, selalu menjadi topik hangat untuk dibicarakan, identik dengan pemujaan, kegiatan spiritual, pesugihan, pemujaan, tumbal atau tempat ritual untuk mendapatkan kekayaan. Banyak masyarakat percaya bahwa gunung Kawi bukanlah sekedar gunung biasa, berbagai kekuatan ghaib di sana mampu mendengar setiap keinginanmu. Dalam tulisan ini, saya akan mengajakmu untuk mengenalnya lebih dekat.



Lokasi Gunung Kawi

Gunung Kawi terletak di Desa Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sekitar 15km dari kota Malang, berdekatan dengan gunung Butak, keduanya seperti gunung kembar, bagai gunung Welirang dan gunung Arjuno atau gunung Gede dan gunung Pangrango. Ketinggian puncak gunung Kawi sendiri adalah 2.551 mdpl.


7 Misteri Tentang Gunung Kawi

Gunung Kawi dikenal sebagai tempat yang sering dikunjungi oleh orang-orang yang malas bekerja namun ingin cepat kaya. Berbagai ritual sering dilakukan di sana. Sebab, beberapa ahli spiritual mengatakan bahwa gunung satu ini memiliki mustika kekayaan. Berikut adalah beberapa fakta tentang gunung Kawi yang perlu kamu ketahui.

Rumah Padepokan Eyang Sujo



Lokasi saat pertama kali didirikannya rumah padepokan Eyang Sujo adalah di kota Blitar, Jawa Timur. Konon, rumah padepokan ini memiliki hubungan spiritual dengan pesugihan di gunung Kawi. Saat berada di sini, kamu bisa menyaksikan beberapa benda pusaka peninggalan Eyang Sujo, semisal guling dan bantal yang terbuat dari batang pohon kelapa atau tombak yang digunakan Eyang Sujo semasa peperangan Diponegoro.

Petilasan Prabu Sri Kameswara

Berada di ketinggian 700 mdpl, sekitar 30 menit dari makam Eyang Sujo, keberadaan petilasan Prabu Sri Kameswara seringkali dijadikan tempat ritual pesugihan dan pemujaan. Prabu Sri Kameswara sendiri merupakan pangeran kerajaan Kediri Hindu. Menurut cerita masyarakat, dahulu sang pangeran sering melakukan semedi di tempat tersebut, sehingga mampu mengatasi kemelut politik di dalam kerajaannya.

Berkunjungnya Dua Kolomerat Indonesia ke Gunung Kawi

Menurut rumor yang beredar, gunung Kawi pernah kedatangan 2 orang kolomerat Indonesia yang saat ini sangat kaya raya, mereka adalah pendiri bank BCA dan pemiliki pabrik rokok Bantoel. Semasa keterpurukannya, mereka datang ke gunung Kawi yang kemudian menjadi tokoh kaya raya di Indonesia. Namun, rumor ini masih perlu diperjelas kebenarannya.

Ritual pada Tanggal 12 Suro dan Jum'at Legi

Jum'at Legi merupakan hari pemakaman Eyang Jugo yang dikenal juga dengan nama Kyai Zakaria II dan pada tanggal 12 Suro merupakan hari wafatnya Eyang Sujo. Oleh karenanya, berbagai ritual selalu rutin dilakukan pada waktu-waktu tersebut. Bila kamu hendak mengikutinya, sebaiknya membersihkan badan dan pikiran negatif terlebih dahulu.

Pohon Dawandru Dipercaya Sebagai Pohon Keberuntungan

Pohon Dawandru dikenal sebagai pohon keberuntungan, masyarakat Tionghoa menyebutnya sebagai shian-to (pohon para dewa). Letaknya berada di kawasan makam. Para pengunjung seringkali menunggu bagian-bagian dari pohon dawandru terjatuh, baik itu dahan, ranting, daun atau buah. Sebab, mitos mengatakan bahwa barang siapa yang memiliki benda-benda yang terjatuh dari pohon Dawandru, maka kekayaan akan segera menghampirinya.

Keberadaan Guci Kuno yang Bisa Menjadi Obat Awet Muda

Terletak di samping makam Eyang Jugo, 2 guci suci ini merupakan peninggalan Eyang Jugo. Konon, 2 guci ini sering digunakan oleh Eyang Jugo sebagai tempat penyimpanan air sakti yang mampu mengobati berbagai penyakit. Hingga hari ini, para pengunjung percaya bahwa air yang disimpan di dalam guci-guci ini mampu menjadi obat awet muda.

Pesugihan Berujung Tumbal di Gunung Kawi

Inilah rumor paling mengerikan yang berhubungan dengan gunung Kawi. Beberapa sumber mengatakan bahwa salah satu syarat pesugihan di gunung Kawi adalah tumbal manusia. Secara kasar, kita menukarkan nyawa dengan harta yang sangat banyak.

Setelah seseorang melakukan pesugihan selama 1 tahun, maka ia akan mendapatkan peningkatan kuantitas ekonomi. Namun saat itu pula, ia mulai diharuskan mengorbankan seseorang yang memiliki hubungan darah dengannya untuk dijadikan tumbal dan dijadikan budak di alam ghaib. Biasanya, seseorang yang dijadikan tumbal akan mati tak terduga dan seseorang yang menumbalkannya akan mengalami peningkatan kekayaan yang amat signifikan.


Pendakian Gunung Kawi

Sejauh ini, pendakian di gunung Kawi tidak banyak dilakukan oleh para pendaki. Namun, bila kamu tertarik untuk melakukannya, ada 3 jalur yang bisa kamu pilih, yaitu jalur dari jalur Pasarean (6 jam), Precet dan jalur Keraton (12 jam).



Jalur via Keraton dikenal sebagai jalur rintisan dan baru dibuka, basecamp-nya berada di Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sepanjang perjalanan, kamu akan menemukan beberapa sumber air. Serta, jalur ini masih asri dan kental akan budaya lokal.

Baca juga: 9 mitos dan misteri gunung Merapi yang angker

Jumat, 05 Januari 2018

Pendakian Gunung Tambora Via Desa Pancasila, Transpotasi dan Biaya

Gunung Tambora terletak di perbatasan antara Kabupaten Bima dan Kabupaten Dempo, Provinsi Nusa Tenggara Barat, berada di pulau Sumbawa yang merupakan bagian dari kepalauan Nusa Tenggara, semenanjung gunung Tambora (Sanggar) diapit oleh Laut Flores di sebelah utara dan Teluk Saleh di sebelah selatan.

Dahulu, gunung Tambora memiliki ketinggian 4.300 mdpl, merupakan salah satu gunung tertinggi di Indonesia. Namun sebuah letusan hebat terjadi pada tahun 1815, menyebabkan gunung Tambora harus kehilangan sebagian ketinggiannya, menjadi 2.851 mdpl, dan meninggalkan bekas letusan berupa kaldera yang sangat besar, terluas di Indonesia.

Seberapa Dahsyatkah Letusan Gunung Tambora Kala Itu?

Banyak para ahli yang mengatakan bahwa letusan gunung Tambora pada abad ke-18 merupakan letusan gunung paling dahsyat di sepanjang sejarah peradaban manusia. Dentumannya terdengar hingga pulau Sumatera, jatuhan abu vulkaniknya sampai hingga Maluku, tanah Jawa, Sulawesi dan Kalimantan. Setidaknya, letusan ini menewaskan hingga 71.000 orang. Kedahsyatannya mengubah iklim dunia, setahun penuh tanpa musim panas, mengakibatkan kematian hewan ternak dan gagal panen di belahan dunia.


Jalur Pendakian Gunung Tambora

Meskipun memiliki sejarah letusan yang amat hebat. Namun, kegagahan gunung Tambora mampu menjadi daya tarik untuk para petualang dan para pendaki dari belahan penjuru Indonesia. Setiap tahunnya, gunung Tambora tidak pernah luput dari jamahan mereka.

Untuk mencapai puncak gunung Tambora, ada 3 jalur pendakian yang bisa kamu pilih di antaranya adalah.


  • Jalur Doro Peti
  • Jalur Doro Ncanga
  • Jalur Desa Pancasila

Sementara, jalur yang paling populer adalah jalur pendakian yang dimulai dari Desa Pancasila. Sebab, medannya lebih mudah dan lebih pendek ketimbang 2 jalur lainnya. Oleh karenanya, dalam tulisan kali ini, kamu akan mengetahui informasi tentang jalur Desa Pancasila secara menyeluruh. Berikut di bawah ini.

Rute Perjalanan

Akses menuju Desa Pancasila bisa ditempuh dari Bandara Hasanudin di Bima, kamu dapat menggunakan bus, namun sangat jarang, atau lebih baik menyewa mobil. Men-charter-nya beberapa hari sebelum tanggal pendakian.

Basecamp dan Perizinan

Basecamp pendakian berada di Desa Pancasila, berada di ketinggian 600 mdpl, dikoordinir oleh Bapak Saiful Bahri. Di sana, terdapat sebuah penginapan, kamar mandi umum, warung makanan dan toko pernak-pernik oleh-oleh khas gunung Tambora, semisal gantungan, pin atau stiker.


Pendakian Gunung Tambora Via Desa Pancasila, Transpotasi dan Biaya

Basecamp - Pos 1 (1.200 mdpl)

Bila berjalan kaki, perjalanan menuju pos 1 akan menghabiskan waktu sekitar 2,5 jam. Namun, untuk menghemat waktu dan tenaga, sebaiknya kamu menggunakan jasa ojek menuju pintu rimba atau tangga beton. Tarif ojek di sini bervariasi dari Rp. 50 ribu hingga Rp. 100 ribu, tergantung kemahiranmu dalam masalah tawar-menawar. Jarak dari pintu beton menuju pos 1 tidak terlalu jauh.

Pos 1 - Pos 2 (1.280 mdpl)

Beranjak dari pos 1, perjalanan akan melintasi jalur sempit yang diapit oleh semak belukar, terkadang kita harus menebas semak untuk memperjelas jalur pendakian. Sesampainya, di pos 2, kamu dapat menemukan sumber air yang melimpah ruah, berupa aliran sungai yang sangat jernih. Oleh karenanya, pos 2 merupakan tempat ideal untuk memasak kebutuhan logistik.

Pos 2 - Pos 3 (1.600 mdpl)

Tidak jauh berbeda dari sebelumnya, perjalanan menuju pos 3 akan melintasi tanah setapak yang cukup licin di musim hujan, menurun, menyebrangi sungai dan menanjak kembali. Hutan mulai tertutup, pemandangan didominasi oleh pepohonan pakis. Terkadang, pohon-pohon yang tumbang akan menghadang petualanganmu.

Pos 3 merupakan tempat paling ideal untuk mendirikan tenda di malam pertama pendakianmu, areanya paling luas, mampu menampung 15 tenda. Namun, waspadalah pada kemunculan segerombol babi hutan. Meski hanya untuk mencari makan, tapi kalau mereka merasa terganggu, mereka bisa menghajar tenda dan barang-barangmu.

Pos 3 - Pos 4 (1.900 mdpl)

Selepas pos 3, jalur pendakian akan diapit oleh tanaman Jelatang yang berduri, berhati-hatilah karena ia dapat melukai kulitmu. Sementara, tingkat kemiringan track semakin menanjak, jaraknya yang panjang, mampu membuat kita ngos-ngosan. Mendekati pos 4, pemandangan tanaman Jelatang akan berganti menjadi pepohonan yang menjulang tinggi. Pos 4 sendiri merupakan tempat ideal untuk berteduh, sekedar menghela nafas.

Pos 4 - Pos 5 (2.080 mdpl)

Perjalanan dari pos 4 menuju pos 5 merupakan perjalanan terpendek dari yang lainnya, sekitar 30 menit. Pos 5 sendiri memiliki area yang cukup terbuka, dari sini puncak gunung Tambora sudah terlihat di kejauhan. 30 meter dari pos 5, kamu dapat menemukan aliran sungai yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi kembali perbekalan minum, dan ini merupakan sumber air terakhir.

Pos 5 - Kaldera Besar Gunung Tambora

Beranjak dari pos 5, perjalanan selanjutnya adalah menuju bibir kaldera gunung Tambora, pemandangan berupa tanaman perdu, rerumputan dan pohon cemara. selanjutnya kamu akan sampai di Cemoro Tunggal, area yang luas untuk mendirikan tenda, di sana juga terdapat sebuah makam atau monumen in momeriam.

Setelah melewati Cemoro Tunggal, kemiringan track akan lebih sadis, lebih menanjak, lebih susah untuk dilewati. Medan tanah setapak berganti menjadi medan bebetuan yang berpasir, khas gunung berapi lainnya, cukup menguras tenaga. Track berpasir ini akan mengantarkanmu hingga bibir kaldera gunung Tambora yang berukuran besar.

Kaldera - Puncak Gunung Tambora (2.850 mdpl)

Selepas kaldera, track masih berupa pasir padat bercampur batu, kemiringannya pun masih cukup sadis. Setelah bergelut selama 20 menit, maka kamu akan sampai di puncak gunung Tambora.


Puncak Gunung Tambora

Sesampainya di puncak gunung Tambora, maka pemandangan indah akan segera menyambutmu, berupa hamparan pulau Satonda, pulau Moyo dan besarnya kaldera gunung Tambora, sangat mengagumkan. Terlebih saat menyaksikan sunset di pagi yang cerah, warna jingga matahari akan membalut pemandangan gunung Agung dan gunung Rinjani di sebelah barat.

Baca juga;


Estimasi Waktu Pendakian Gunung Tambora

Basecamp - Pintu rimba: 45 menit (naik ojek)
Pintu rimba - Pos 1: 40 menit
Pos 1 - Pos 2: 1,5 jam
Pos 2 - Pos 3: 2 jam
Pos 3 - Pos 4: 1 jam
Pos 4 - Pos 5: 30 menit
Pos 5 - Kaldera: 2,5 jam
Kaldera - Puncak: 20 menit

Tips Pendakian Gunung Tambora Via Desa Pancasila

  • Usahakan untuk melakukan pendakian di musim kemarau, saat musim hujan, kesulitan jalur akan bertambah beberapa kali-lipat
  • Kawasan dari pos 3 hingga pos 5 adalah habitat babi hutan. Kemasilah barang bawaan sebaik mungkin, segera bersihkan setelah selesai makan dan bila hendak menyimpan barang bawaan di pos 5, sebaiknya rapikan dan gantung di atas pohon
  • Kenakan pakaian lapangan, baju dan celana panjang, serta kaos tangan, saat melakukan perjalanan menuju pos 4, karena jalur diapit oleh tanaman jelatang yang berduri
  • Pemandangan sunset dan sunrise di puncak gunung Tambora sama-sama indah, kamu dapat melakukan summit atack di pagi dan sore hari
  • Saat menikmati pemandangan kaldera dari bibirnya, sebaiknya tidak terlalu dekat karena rongga di bibir kaldera mudah keropos
  • Sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi kebutuhan minum berada di pos 2 dan pos 5
  • Pada umumnya, pendakian di gunung Tambora dilakukan selama 3 hari 2 malam

Demikian adalah informasi tentang jalur pendakian gunung Tambora via Desa Pancasila, semoga bermanfaat dan salam lestari

2 Jalur Pendakian Gunung Argopuro, Bremi dan Baderan

Beberapa gunung di Indonesia menyandang bermacam predikat, di antaranya adalah gunung paling angker, gunung paling indah, gunung paling dingin, gunung paling ekstrim atau gunung paling tinggi. Termasuk gunung Argopuro ia menyandang predikat sebagai gunung dengan jalur pendakian paling panjang se-tanah Jawa.

Bisa dibayangkan, bila gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa, rata-rata pendaki hanya menghabiskan 3 hari 2 malam untuk menjamahinya, maka untuk menjamahi gunung Argopuro, rata-rata pendaki membutuhkan 4 hari untuk menaiki dan menuruni gunung ini. Bagi kamu yang pernah melakukannya, pasti sudah tahu bila gunung Argopuro memang memiliki track panjang di dalamnya.

Sejarah Penamaan Gunung Argopuro

Menurut bahasa daerah, 'argo' memiliki makna gunung dan 'puro' bermakna pura atau keraton. Nama ini menggambarkan terdapatnya kompleks candi atau pura di sepanjang semenanjung kawasan gunung Argopuro. Bahkan saat berada di puncaknya, kamu bisa melihat reruntuhan atau puing-puing bekas sebuah kerajaan. hal ini tidak terlepas dari mitos dan misteri yang telah saya rangkum dalam tulisan yang berjudul sejuta misteri gunung Argopuro.

Letak Gunung Argopuro

Gunung Argopuro terletak di Provinsi Jawa Timur, meliputi 5 wilayah kabupaten, di antaranya adalah Kabupaten Situbondo, Bondowoso, Jember, Probolinggo dan Kabupaten Lumajang, masuk dalam kawasan Suaka Margasatwa Datarang Tinggi Hyang, diapit oleh dua gunung populer, yaitu gunung Raung dan gunung Semeru.


2 Jalur Pendakian Gunung Argopuro, Bremi dan Baderan

Untuk mencapai puncak gunung Argopuro, ada dua jalur pendakian yang bisa kita lewati, yaitu jalur Bremi di Kabupaten Probolinggo dan jalur Baderan di Kabupaten Situbondo. Untuk mendapatkan pengalaman yang lengkap, para pendaki biasanya memakai jalur Baderan untuk naik gunung dan jalur Bremi untuk menuruninya. Hal ini dilakukan karena mengingat bahwa jalur Bremi lebih sadis ketimbang jalur Baderan.

Sementara, informasi tentang ke-2 jalur tersebut sudah saya rangkum dalam tulisan yang akan segera kamu baca. Berikut di bawah ini.


Jalur Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan

Rute Perjalanan

Dari Jakarta, maka tujuan awal kita adalah Terminal Probolinggo, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan minibus menuju Besuki, selanjutnya adalah menuju basecamp dengan menggunakan jasa tukang ojek.

Perizinan

Sebelum memulai pendakian, maka kamu diwajibkan untuk melapor, serta mendaftarkan diri, di kantor Perhutani atau kantor Polisi Sektor Sumber Malang. Tarif pendakian di gunung Argopuro dihitung per hari. Setelah melakukan perizinan, maka kamu sudah siap untuk melakukan perjalanan menuju puncak gunung Argopuro.


Jalur Pendakian

Basecamp - Mata Air ll

Beranjak dari basecamp, perjalanan dimulai dengan menuruni jalanan beraspal, selepasnya, maka track akan menanjak dengan medan tanah setapak. Pemandangan masih terbuka, memperlihatkan barisan pegunungan yang indah nan luas. Atau, kamu dapat naik ojek menuju pintu rimba, dengan tarif Rp. 30 ribu.

Sesaat setelah memasuki hutan, jalanan akan menanjak, jalur akan menyempit, hingga akhirnya bertemu dengan papan bertuliskan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang. Selepasnya, vegetasi akan sedikit terbuka, jalanan akan terasa lebih landai.

Sesampainya di pos Mata Air ll, kamu dapat memanfaatkan area yang cukup luas untuk beristirahat dan sumber air berupa aliran sungai untuk mengisi kembali persediaan minum.

Mata Air ll - Cikasur

Selepas pos Mata Air ll, jalur pendakian akan memasuki hutan yang rapat, vegetasi tertutup, kemudian akan menyebrangi sebuah padang rumput  yang dihiasi oleh tumbuhnya bunga Lavender, yang kemudian akan memasuki hutan kembali, sebelum akhirnya sampai di pos Cikasur yang merupakan padang Savana luas.

Perjalanan dari pos Mata Air ll menuju pos Cikasur merupakan perjalanan yang panjang dan menguras tenaga. Serta saat kamu memasuki hutan, terkadang ada segerombolan kera hitam yang menampakan diri mereka sambil bergelantungan di dahan-dahan pepohonan.

Saat mendekati pos Cikasur, maka kamu akan menuruni sebuah tebing dan menyebrangi aliran sungai. Dahulu, di jaman penjajahan Belanda, pos Cikasur merupakan tempat penerbangan pesawat pemasok makanan bagi para tentara Belanda. Bila kamu pernah membaca sejarah gunung Argopuro, maka kamu tahu betapa mengerikannya sejarah di Cikasur ini.

Saat ini, pos Cikasur merupakan tempat ideal untuk mendirikan tenda, beristirahat pada malam pertama pendakian. Sebab, di sini areanya sangat luas, pemandangan yang disajikan sangat indah, tersedia makanan gratis berupa selada air dan terdapat sumber air yang melimpah ruah.

Cikasur - Cisentor

Setelah bermalam di pos Cikasur, perjalanan dilanjutkan dengan melewati 3 bukit, menaiki dan menuruninya, memasuki hutan yang tidak terlalu rapat. Saat melintasi bukit terakhir, kamu akan masuk ke dalam hutan bekas terbakar, pepohonannya berwarna hitam dan rawan tumbang.

Mendekati pos Cisentor, maka track akan menurun, menyusuri lereng gunung, dimana sebelah kanan jalur merupakan jurang yang menganga, kemudian akan menyebrangi aliran sungai dan sampailah kita di pos Cisentor, sebuah area yang cukup luas untuk mendirikan tenda, terdapat sebuah shelter kecil dan terdapat sumber air.

Cisentor - Rawa Emblik

Selepas pos Cisentor, perjalanan dilanjutkan dengan melintasi padang savana dan padang edelweis yang sangat anggun nan indah, kemudian menyebrangi sungai yang kering di musim kemarau dan ada aliran air saat musim penghujan. Medan berupa tanah setapak, setelah menyusuri punggungan sebuah bukit, maka kamu akan sampai di pos Rawa Emblik.

Pos Rawa Emblik sendiri merupakan area tanah datar yang cukup luas, mungkin mampu menampung 4-5 tenda. Di sini sangat ideal untuk dijadikan tempat istirahat ataupun nge-camp. Sebab, kamu dapat menemukan sumber air untuk mengisi perbekalan air atau keperluan memasak.

Rawa Emblik - Puncak

Beranjak dari Rawa Emblik, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri padang rumput yang cukup luas, vegetasi terbuka, meski masih terlihat jajaran pepohonan, bunga edelweis kadang menyapa dari pinggiran track, lintasan berupa punggungan bukit, selanjutnya akan menyebrangi sungai kering.

Sekeluarnya dari punggungan bukit, maka kamu akan sampai di sebuah padang rumput yang cukup luas, ditumbuhi bunga lavender yang tidak terlalu tinggi. Pemandangan di padang rumput tersebut sangatlah indah nan luas, di sebelah kiri terdapat puncak Argopuro (30 menit) dan di sebelah kanan terdapat puncak Rengganis (15 menit).

Melanjutkan perjalanan, maka lintasan akan menurun, sekitar 15 menit maka kamu akan sampai di Puncak Arca, di sana kamu dapat menyaksikan puing-puing reruntuhan bangunan yang sudah tertutup rerumputan.

Puncak - Danau Taman Hidup

Selanjutnya, bila hendak turun gunung menggunakan jalur Bremi, maka kamu dapat mengunjungi Danau Taman Hidup terlebih dahulu, menyajikan pemandangan yang sangat indah, berupa sebuah danau yang sering tertutup kabut.


Jalur Pendakian Gunung Argopuro Via Bremi

Rute Perjalanan

Dari Jakarta, kamu dapat menggunakan bus jurusan Terminal Probolinggo, kemudian dilanjutkan dengan naik minibus menuju Bremi, atau bila menggunakan kereta api, kamu dapat memulai perjalanan dari Statsiun di Jakarta (Gambir atau Pasar Minggu) menuju statsiun Malang, kemudian dilanjutkan menuju Statsiun Probolinggo, sesampainya di Statsiun Probolinggo, lanjutkan perjalanan menuju Bremi dengan mengginakan bus.

Perizinan

Mengurus perizinan bisa dilakukan di polsek Bremi yang sekaligus menjadi basecamp pendakian.


jalur pendakian

Basecamp - Danau Taman Hidup (4 jam)

Beranjak dari basecamp, maka perjalanan akan menyusuri jalan beraspal yang disambung dengan tanah setapak, pemandangan berupa perkampungan warga, memasuki hutan pepohonan Balsa yang cukup rapat, kemudian vegetasi kembali terbuka, pepohonan berganti menjadi semak belukar yang cukup tinggi. Berhati-hatilah saat melewati lintasan ini, karena tempat ini merupakan habitat bagi para pacet (lintah).

Danau Taman Hidup - Hutan Lumut (30 menit)

Selepas Danau Taman Hidup, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri sungai kecil yang merupakan penyimpanan air bagi hutan Argopuro.

Hutan Lumut - Cemara Lima (2 jam)

Menuju pos Cemara Lima, kamu akan melewati sebuah bukit, menaiki dan menuruninya, hingga akhirnya sampai di pos Cemara Lima, sebuah area yang cukup luas, didominasi oleh pepohonan pinus.

Cemara Lima - Angkene (3 jam)

Perjalanan selanjutnya adalah menyuri jalur sempit yang diapit oleh ilalang tinggi, sekitar 2 meter. Berhatilah-hatilah pada jalanan yang licin, sabetan ilalang yang kadang tajam dan kehadiran segerombolan pacet.

Angkene - Cisentor (2 jam)

Perjalanan menuju pos Cisentor akan membawamu kepada sebuah savana dan sabana. Hingga akhirnya sampai di pos Cisentor yang merupakan titik temu antara jalur Baderan dan jalur Bremi. Pos satu ini ditandai dengan adanya shelter kecil yang bisa dimanfaatkan untuk sekedar berteduh.

Cisentor - Puncak

Karena jalur dari pos Cisentor sama saja dengan jalur Bremi, maka kali ini saya tidak akan menuliskannya dengan panjang lebar. Perjalanan dari pos Cisentor menuju puncak akan memakan waktu sekitar 3 jam.


Puncak Gunung Argopuro

Gunung Argopuro memiliki 3 puncak, yaitu puncak Rengganis (2.980 mdpl), puncak Arca dan puncak Argopuro (puncak tertinggi, setinggi 3.088 mdpl). Setiap puncak memiliki keunikannya masing-masing dan tidak akan membuatmu menyesal saat berhasil menapakan kaki di atasnya.

Tips Pendakian Gunung Argopuro

  • Persiapkan logistik sebaik mungkin, minimal untuk keperluan 5 hari
  • Persiapkan fisik dan mental, karena jalur pendakian gunung Argopuro merupakan terpanjang di pulau Jawa
  • Usahakan untuk menggunakan jasa ojek saat beranjak dari basecamp
  • Bekali diri atau rombongan dengan ilmu navigasi dasar, karena di beberapa titik, jalur tidak terlihat begitu jelas
  • Untuk menghindari resiko tersesat, dirikanlah tenda sebelum hari menjadi gelap
  • Jagalah kelestarian alam di gunung Argopuro

Demikian adalah informasi tentang jalur pendakian gunung Argopuro, baik via Bremi atau via Baderan. Semoga bermanfaat dan salam lestari.

Kamis, 04 Januari 2018

Jalur Pendakian Gunung Leuser di Aceh

jalur pendakian gunung leuser

Gunung Leuser merupakan gunung tertinggi di Provinsi Aceh, ketinggian puncak tertingginya mencapai 3.404 mdpl. Letaknya berada di perbatasan antara Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Tamiang, Aceh Singkil, Aceh Barat Daya dan Kabupaten Gayo Lues, merupakan bagian dari gugusan pegunungan Bukit Barisan yang membentang di sepanjang pulau Sumatera, juga masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia.



Gunung Leuser memiliki panorama alam yang cantik nan jelita, gagah nan perkasa, elok nan indah. Namun, sedikitnya informasi tentang kekayaan alam gunung Leuser menjadikannya tidak begitu populer di kalangan para pendaki. Padahal saat menjamahinya, kamu akan melihat segala keindahan alam yang kamu dambakan, baik berupa bentangan alam, kehidupan berbagai hewan atau bermacam tumbuhan yang unik.


Jalur Pendakian Gunung Leuser Dilengkapi Dengan Estimasi Biaya dan Waktu



Puncak gunung Leuser berjumlah tiga, yaitu puncak Leuser, puncak Loser dan puncak Tanpa Nama. Sedangkan puncak tertingginya adalah puncak Tanpa Nama, setinggi 3.404 mdpl. Untuk mencapainya, ada dua jalur yang bisa kamu pilih, di antaranya adalah jalur dari arah utara (Desa Kedah) dan jalur dari arah selatan.

Namun, jalur dari arah selatan sangat jarang digunakan oleh para pendaki. Sebab, jalur satu ini memiliki jarak tempuh yang sangat panjang dan track yang sangat sadis nan terjal. Oleh karenanya, para pendaki lebih senang menggunakan jalur sebelah timur yang dimulai dari Desa Kedah dan jarak tempuh rata-rata adalah 16 hari (naik-turun).

Ketentuan dan Syarat Pendakian Gunung Leuser

Buat kamu yang hendak melakukan petualangan di gunung Leuser, menikmati setiap keindahannya, menggeluti track hebatnya atau menjumpai setiap tanaman dan hewan di sana. Sebaiknya mengetahui segala ketentuan-ketentuan pendakian gunung Leuser di bawah ini.

1. Paling lambat, membooking tiket masuk adalah sebulan sebelum tanggal pendakian

2. Buat para mahasiswa, pelajar atau akademi organisasi, sebaiknya membawa surat permohonan dari universitas, sekolah atau organisasi, dan disampaikan kepada Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang kemudian akan disampaikan kepada Kodim 0113 Gayo Lues dan Polres Gayo Lues

3. Melengkapi surat-surat administrasi berupa kartu identitas yang difoto copy menjadi 4 lembar, dan disampaikan berbarengan dengan surat permohonan kepada Balai Besar TNGL, sehingga nantinya akan dijadikan arsip Leuser Mentalu

4. Menyerahkan SIMAKSI kepada Balai Besar TNGL yang dibuat di Seksi Pengelolaan TNGL wilayah lll, Kota Blangkerjen, Gayo Lues

5. Menyerahkan surat keterangan sehat yang dibuat di dokter

6. Setiap pendaki perorangan atau rombongan diwajibkan untuk menyewa jasa guide, hal ini untuk menjaga keselamatan. Sebab, TNGL merupakan tempat perlindungan bagi Harimau Sumatera

Untuk informasi lebih detail dan lanjut, sebaiknya kamu menghubungi Balai Besar TNGL di nomor 061-7872919 atau menghubungi salah satu porter di sana, yaitu Mr. Jali di nomor 0813-6229-1844. Juga kamu bisa membuka website resmi TNGL di www.gunungleuser.or.id

Estimasi Biaya Pendakian Gunung Leuser

Salah satu hal yang harus dipertimbangkan saat kamu hendak melakukan pendakian di gunung Leuser adalah masalah biaya. Sebaiknya melakukan pendakian dalam rombongan, agar lebih murah, idealnya 4-5 orang. Sementara, kocek yang harus kamu rogoh adalah Rp. 4-5 juta per orang (catatan: perjalanan dimulai dari Jakarta)

Transportasi Menuju Desa Kedah

Tujuan awal kita adalah kota Medan. Setelah sampai di kota Medan, kita dapat menggunakan mobil jenis L300 milik PO. BTN atau PO. Karsimana menuju Desa Kedah, lama perjalanan sekitar 1 hari di dalam mobil.


Jalur Pendakian Gunung Leuser

Desa Kedah - Sinnebuk Green (1 jam)

Perjalanan biasanya dimulai dari desa Kedah atau rumah porter yang menemani rombonganmu. Di awal perjalanan, kamu akan menemukan medan berupa tanah setapak, pemandangan berupa bentangan perkebunan milik penduduk setempat. Hingga akhirnya harus menyebrangi sungai dan mulai memasuki hutan yang tidak terlalu rapat.

Setelah berjalan sekitar 1 jam, maka kamu akan sampai di Sinnebuk Green yang merupakan sebuah kawasan yang di dalamnya terdapat 5 buah bangunan yang bisa kamu gunakan untuk berteduh dan beristirahat. Baik saat naik gunung atau saat menuruninya.

Sinnebuk Green - Tobacco Hut (4 jam)

Perjalanan menuju Tobacco Hut akan mengantarkanmu kepada tanjakan-tanjakan yang akan menguras tenaga dan menguji mental, serta kita harus melipiri sungai. Mendekati pos Tobacco Hut, kita akan dihadapkan dengan tanjakan sadis, para penduduk menamai tanjakan tersebut dengan nama tanjakan Pantat.

Pos Tobacco Hut sendiri ditandai dengan adanya bentangan kebun tembakau milik penduduk dan terdapat sebuah bangunan berbentuk panggung yang bisa kita gunakan untuk beristirahat. Menurut penuturan masyarakat sekitar, Tobacco Hut dahulu merupakan medan perang saat konflik Aceh terjadi.

Tobacco Hut - Simpang Angkasan (5 jam)

Beranjak dari Tobacco Hut kita akan menaiki dan menuruni beberapa tebing, hingga akhirnya kita akan sampai di Pintu Rimba, batas vegetasi, memasuki hutan lebat di gunung Leuser. Setelah melewati pintu rimba, selang beberapa waktu, maka kita akan sampai di Simpang Angkasan, sebuah persimpangan yang akan mengantarkanmu pada Puncak Angkasan.

Simpang Angkasan - Camp I (1 jam)

Di awal pendakian menuju Camp l, keadaan track masih menanjak namun tidak terlalu terjal, vegetasi sangat rapat, karena udara di sini sangat lembab, kamu dapat melihat pemandangan pohon-pohon yang diselimuti lumut, khas hutan hujan tropis pada umumnya.

Namun saat mendekati Camp l, jalanan semakin mananjak nan terjal, menguji mental dan nyali. Setelah berjalan sekitar 1 jam dari Simpang Angkasan, maka kamu akan sampai di Camp l.

Pada umumnya, para pendaki menjadikan Camp l sebagai tempat mendirikan tenda di malam pertama pendakian mereka. Sebab, areanya cukup luas, mungkin dapat menampung 10 tenda. Serta, di sana juga kamu dapat menemukan sumber air untuk mengisi perbakalan minum.

Camp 1 - Puncak Angkasan (4 jam)

Selepas Camp l, vegetasi kembali menjadi sangat rapat, udara sangat lembab, terlebih bila kamu melakukan pendakian di musim hujan. Setelah berada di tengah perjalanan menuju Puncak Angkasan, track pendakian akan semakin sadis dan ekstrim, jalur sangat sempit, diapit oleh jurang di sebelah kanan dan kiri, ditambah dengan kehadiran ranting-ranting pohon yang menghalangi jalur, menambah tingkat kesulitan saat melewatinya.

Setelah bergelut dengan track selama 4 jam, maka kita akan sampai di Puncak Angkasan yang merupakan satu dari empat puncak yang harus dilewati sebelum mencapai puncak gunung Leuser. Area di puncak Angkasan cukup luas, mungkin mampu menampung 4 tenda. Bila cuaca sedang cerah, maka dari sini kamu dapat melihat penampakan puncak Leuser di kejauhan.

Puncak Angkasan - Kayu Manis I (2 jam)

Beranjak dari Puncak Angkasan, kamu akan menuruni gunung, track turun yang tidak terlalu terjal, vegetasi masih sangat tertutup, pemandangan berupa pohon-pohon besar yang diselimuti oleh lumut. Perjalanan dari Puncak Angkasan menuju Kayu Manis l membutuhkan waktu sekitar 2 jam.

Kayu Manis I - Kayu Manis II (2 jam)

Selepas Kayu Manis l, perjalanan akan mengantarkan kita pada beberapa bukit yang harus dinaiki dan dituruni. Mendekati Kayu Manis ll, jalur terkesan tertutup oleh ilalang-ilalang yang tumbuh cukup tinggi, membuat jalan tidak terlihat begitu jelas. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 2 jam.

Kayu Manis II - Kayu Manis III (1 jam)

Setelah melewati Kayu Manis ll, jalanan akan menurun kemudian menanjak drastis. Berjalan sekitar 1 jam, kamu akan sampai di pos Kayu Manis lll yang merupakan puncak sebuah bukit, memiliki pemandangan yang cukup terbuka dan areanya cukup luas, mungkin mampu menampung 5 tenda.

Kayu Manis III - Lintasan Badak (2 jam)

Menuju Lintasan Badak, berbagai rintangan akan menghadang perjalananmu, di antaranya adalah jalur menurun tajam nan licin karena ditumbuhi oleh lumut, beberapa pohon besar yang rubuh menghalangi jalan dan tumbuhan rotan yang kadang menghalangi jalanan, membuat kita harus berhati-hati agar tidak tersandung olehnya.

Setelah berjalan sekitar 2 jam, maka kita akan sampai di Lintasan Badak yang merupakan sebuah lahan terbuka dan tidak terlalu luas.

Lintasan Badak – Papanji (3 jam)

Selepas pos Lintasan Badak, perjalanan dilanjutkan dengan melintasi track-track terjal, naik-turun punggungan gunung, vegetasi masih sangat tertutup. Hal yang perlu kamu waspadai adalah jalur pendakian yang tidak jelas, harus sangat teliti agar tidak tersesat.

Selain itu, perjalanan menuju Pos Papanji pun akan membawamu pada Hutan Papanji yang merupakan habitat Harimau Sumatera, para penduduk menuturkan bahwa masih seringnya terlihat hewan langka tersebut di hutan Papanji. Jadi, alangkah baiknya bila tidak sendirian saat melintasi hutan Papanji.

Setelah berjalan sekitar 3 jam, maka kamu akan sampai di pos Papanji, sebuah area yang cukup sempit. Di sini kamu dapat menemukan sumber air berupa sebuah genangan besar. Sebaiknya tidak mengambil air pada waktu sore dan pagi, karena waktu-waktu tersebut merupakan jam-jam Harimau Sumatera mencari minum.

Papanji - Blangbeke

Awal perjalanan menuju Blangbeke, kamu akan menaiki dan menuruni punggungan gunung, vegetasi masih rapat. Saat mendekati pos Blangbeke, maka kamu akan menjumpai padang rumput yang luas, medan berupa bebatuan vulkanik. Konon, di lintasan ini sering terlihat bekas kaki Harimau Sumatera yang menggambarkan bahwa hewan tersebut sering berlalu lalang di kawasan ini.

Pos Blangbeke berada di tengah padang rumput yang luas, sangat nyaman saat berada di sini, terlebih di sini kamu dapat menemukan sumber air, berupa sumur yang sengaja digali. Namun saat musim kemarau, kemungkinan besar sumur ini akan kering.

Blangbeke - Camp Alas

Perjalanan dari Blangbeke menuju Camp Alas akan melewati 3 aliran sungai Alas, ketinggian sungai-sungai tersebut tidaklah terlalu tinggi. Namun, airnya yang sangat dingin mampu membuat kaki terasa beku dan bebatuan untuk berpijak terasa sangat licin, membuat kita harus berhati-hati saat menyebrangi sungai tersebut.

Bila terjadi hujan besar, maka akan terjadi banjir bandang di sungai terakhir, membuat kita harus menunggu hingga air surut.

Setelah melewati sungai terakhir, maka kita akan sampai di Camp Alas yang memiliki area cukup luas, berupa hamparan rumput. Banyak para pendaki yang menjadikannya sebagai tempat mendirikan tenda. Sebab, selain areanya yang luas, kamu pun dapat menemukan sumber air yang melimpah ruah, berupa aliran sungai Alas.

Camp Alas - Kuta Panjang

Selepas Camp Alas, sebelum menyebrangi hutan pohon Perdu, medan masih berupa padang rumput. Sementara, pohon-pohon Perdu akan menemanimu hingga sampai di pos Kuta Panjang yang merupakan puncak sebuah bukit, memiliki pemandangan yang sedikit terbuka.

Kuta Panjang - Kolam Badak

Setelah melewati pos Kuta Panjang, maka kamu akan menuruni bukit, yang kemudian akan menanjak kembali, melipir punggungan pegunungan, masuk ke dalam hutan, hingga akhirnya sampai di pos Kolam Badak yang merupakan sebuah danau besar. Konon, di sini sering ditemukan gerombolan badak Sumatera yang mencari air di danau tersebut.

Kolam Badak - Bivak I

Menuju pos Bivak l, keadaan medan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, vegetasi rapat dan beberapa pohon tumbang menghadang perjalananmu. Mendekati pos Bivak l, kita akan melintasi sebuah padang rumput yang cukup luas.

Sedangkan pos Bivak l merupakan area yang cukup terbuka, pepohonan di sini didominasi oleh pohon perdu. Pada umumnya, para pendaki akan sampai di pos Bivak l di hari pendakian ke-6 atau ke-7.

Bivak l - Camp Putri

Perjalanan menuju Camp Putri akan mengantarkanmu pada medan yang tidak terlalu menanjak. Namun kamu perlu berhati-hati karena di sebelah kanan jalur merupakan jurang yang curam, serta di sini sering turunnya kabut yang kadang menghalangi jarak pandang.

Sesampainya di Camp Putri, kamu akan disuguhi oleh sajian pemandangan yang sangat mengagumkan, berupa gugusan puncak-puncak gunung Leuser. Dekat di mata, jauh di kaki.

Camp Putri - Bivak Kaleng

Selepas Camp Putri, jalur akan menurun, menyebrangi punggungan gunung Bivak. Setelahnya, maka kita akan sampai di pos Bivak Kaleng yang dahulu, di jaman penjajahan Belanda, merupakan tempat ngedrop makanan bagi tentara Belanda.

Bivak Kaleng - Bivak Batu

Setelah melewati pos Bivak Kaleng, track akan menanjak tajam, pemandangan masih didominasi oleh pepohonan perdu, sedangkan di sebelah kanan jalur merupakan jurang yang menganga nan dalam.

Pos Bivak Batu merupakan area yang cukup luas, berada di atas lembah pegunungan, menyajikan pemandangan alam yang sangat indah. Di kejauhan, terlihat puncak Loser yang mengintip di balik sebuah bukit.

Bivak Batu - Simpang Tanpa Nama

Perjalanan menuju pos Simpang Tanpa Nama, kamu akan melewati 2 aliran sungai yang kecil, masing-masing sungai bernama Krueng Kruet l dan Krueng Kruet ll. Sementara jalur di sini terasa lebih landai dari sebelumnya dan vegetasi masih sangat tertutup.

Pos Simpang Tanpa Nama merupakan sebuah persimpangan jalan, jalur sebelah kiri akan mengantarkanmu menuju Puncak Tanpa Nama dan jalur sebelah kanan akan mengantarkanmu menuju Puncak Leuser dan Loser.

Simpang Tanpa Nama - Puncak Loser

Di tengah perjalanan menuju Puncak Loser, kamu akan melewati pos Lapangan Bola yang merupakan sebuah padang yang sangat luas, berkontur tanah kering dan padat. Uniknya di sepanjang perjalanan, kamu akan melihat bebatuan vulkanik yang memiliki berbagai ukuran, mulai dari ukuran kecil hingga besar.

Sementara, selepas pos Lapangan Bola, maka tingkat kemiringan jalur akan meningkat lebih menanjak. Meski sudah berada di ketinggian, namun bekas kaki Harimau Sumatera masih sering terlihat di sepanjang jalur.

Puncak Loser - Puncak Leuser

Perjalanan menuju puncak Leuser bisa dibilang sebuah perjalanan ekstrim, dimana jalur dihiasi oleh kerikil-kerikil kecil dan kabut sering turun menghalangi jarak pandang. Serta tingkat kemiringan track pun tidak kalah dalam menyiksa kita saat hendak mencapai puncak Leuser.

Simpang Tanpa Nama - Puncak Tanpa Nama

Puncak Tanpa Nama merupakan puncak tertinggi di gunung Leuser, namun puncak satu ini kalah populer, di kalangan para pendaki, oleh puncak Loser dan puncak Leuser. Puncak satu ini berbentuk seperti perahu terbalik, memiliki area yang sangat luas, menyajikan pemandangan indah, berupa gugusan puncak Loser dan puncak Leuser di kejauhan.



Baca juga;


Demikian adalah informasi tentang jalur pendakian gunung Leuser, sebuah pendakian yang tidak banyak dilakukan oleh manusia, pendakian yang sangat melelahkan, pendakian paling ekstrim di Indonesia dan pendakian yang membutuhkan waktu lama.

Sumber gambar: http://armayawisata.blogspot.co.id